NARASIBALI.COM, JEMBRANA – Sebelumnya Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Heru Widodo melalui siaran pers mengatakan, untuk mengatasi antrian kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi maupun Pelabuhan Gilimanuk, pihaknya mengoperasikan kapal dengan kapasitas angkut yang besar.
“Kami bersama regulator dan pemangku kepentingan terkait, terus melakukan langkah-langkah percepatan untuk mengoptimalkan kapasitas layanan penyeberangan serta mengurai kepadatan kendaraan di lapangan,” kata Heru.
Menurut dia, saat ini sebanyak 25 kapal berkapasitas besar dioperasikan pada lintasan Ketapang–Gilimanuk, termasuk dengan mengerahkan tiga kapal bantuan. Menurutnya, kepadatan yang terjadi tidak terlepas dari adanya pekerjaan peningkatan kapasitas Dermaga 2 Pelabuhan Gilimanuk dan dermaga ponton Pelabuhan Ketapang menjadi dermaga movable bridge (MB), dengan daya dukung hingga 50 ton.
“Peningkatan kapasitas tersebut merupakan upaya jangka panjang untuk memperkuat keandalan infrastruktur penyeberangan serta mendukung kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang,” jelasnya.
Selama proses pengerjaan berlangsung, kata dia, kapasitas layanan dermaga belum dapat beroperasi secara penuh seperti kondisi normal. Menurut Heru, dalam kondisi normal lintasan Ketapang–Gilimanuk dapat melayani hingga 28 kapal.
Pola TBB
Sementara General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang Media Syahrianto mengatakan, tiga kapal bantuan dioperasikan dengan menerapkan skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) untuk mempercepat proses bongkar muat dan mempersingkat waktu sandar kapal. Skema tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas layanan sekaligus mempercepat pergerakan kendaraan secara bertahap.
“KMP Atayana dan KMP Portlink VII menerapkan pola TBB di Pelabuhan Gilimanuk, sementara KMP Liputan XII menerapkan pola TBB di Dermaga LCM. Langkah ini kami optimalkan untuk mempercepat proses pelayanan dan membantu mengurai kepadatan kendaraan secara bertahap,” kata Media.
ASDP juga mengimbau masyarakat yang akan melakukan perjalanan melalui lintasan Ketapang–Gilimanuk, untuk menyesuaikan rencana perjalanan dan mengantisipasi waktu tempuh yang lebih panjang dari kondisi normal. “Kami minta pengguna jasa mengikuti arahan petugas di lapangan demi menjaga kelancaran, ketertiban, dan keselamatan selama proses antrean dan penyeberangan,” ujarnyam
Dia juga mengatakan, pengguna jasa yang telah memiliki tiket tidak perlu khawatir apabila terjadi penyesuaian waktu keberangkatan akibat kondisi kepadatan. “Dalam kondisi force majeure, tiket yang telah dimiliki pengguna jasa tetap akan dilayani sesuai ketentuan yang berlaku,” jelasnya. gis/nbc




