NARASIBALI.COM, BADUNG – Ketua Yayasan Tri Hita Karana (THK), Ir. I Gusti Ngurah Wisnu Wardana menegaskan bahwa berbicara tentang Tri Hita Karana tidak bisa dilepaskan dari denyut kehidupan masyarakat Bali. Sejarah panjang membuktikan, filosofi ini bukan hanya nilai lokal, tetapi solusi universal yang relevan lintas zaman.
Ia menjelaskan, pada era 1970-an Tri Hita Karana menjawab persoalan demografi, kemudian pada tahun 1990-an menjadi respons atas isu perubahan iklim, hingga selaras dengan Millenium Development Goals (MDGs) di era milenium baru. Saat ini, dunia mengenal Sustainable Development Goals (SDGs), namun jauh sebelum itu Bali telah memiliki piramida harmoni Tri Hita Karana sebagai panduan hidup.
Bahkan, pengakuan internasional telah diterima Bali melalui UN-Tourism pada tahun 2015 lewat Global Code of Ethics for Tourism.
Menurut Wisnu Wardana, pengakuan tersebut bukan sekadar kebanggaan administratif, melainkan legitimasi dunia bahwa pariwisata Bali memiliki jiwa dan nilai moral.
Pengakuan ini memastikan bahwa setiap rupiah yang dihasilkan dari pariwisata tidak boleh merusak hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan.
Hal tersebut disampaikan Wisnu Wardana, saat memberikan sambutan pada Malam Penganugerahan THK Awards di Ballroom Discovery Kartika Plaza Hotel, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Jumat, 9 Januari 2026.
Pada kesempatan tersebut, Wisnu Wardana juga menekankan pentingnya kolaborasi Yayasan Tri Hita Karana dengan Bapelkesmas Bali sebagai langkah strategis menyongsong masa depan.
“Sejalan dengan visi tersebut, Kerja sama yang kami jalin dengan Bapelkesmas Bali adalah langkah nyata untuk menyambut masa depan. Kita ingin Wellness Tourism di Bali tidak hanya menjadi tren bisnis, tetapi menjadi layanan kesehatan yang holistik, profesional, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya kita,” kata Wisnu Wardana.
Lebih lanjut, Wisnu Wardana menegaskan bahwa Malam Penganugerahan THK Awards bukan sekadar seremoni penghargaan, melainkan saksi sejarah perjalanan seperempat abad sebuah keyakinan yang terus diuji zaman.
Ia mengingat kembali masa sulit pandemi Covid-19 yang melumpuhkan pariwisata Bali hingga titik terendah. Namun di tengah keterbatasan, Yayasan THK memilih untuk tetap bergerak.
“Kami melihat bagaimana para mahasiswa Poltekkes Denpasar dengan tangan-tangan tulusnya meracik eco-enzyme demi kemanusiaan. Itulah esensi sejati dari Tri Hita Karana, ia bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan cahaya yang tetap menyala meski di tengah kegelapan krisis yang paling pekat,” paparnya.
Menurutnya, pada THK Awards 2025 diberikan empat kategori utama penghargaan, yakni THK Awards (Lifetime Achievement), THK-PR Awards, THK Innovation Awards, dan THK-CSR Awards.
Penghargaan THK-CSR Awards diberikan kepada BUMN maupun perusahaan swasta yang menunjukkan komitmen kuat dalam penyaluran dana tanggung jawab sosial perusahaan.
“Bahkan, terdapat perusahaan perhotelan yang menyalurkan dana CSR hingga lebih dari setengah miliar rupiah dalam satu tahun dan menerima penghargaan pada ajang THK Awards,” terangnya.
Menariknya, panitia juga menganugerahkan Lifetime Achievement Awards buat 14 hotel yang dinilai konsisten menerapkan prinsip Tri Hita Karana selama dua dekade terakhir.
“Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang, tapi meminjamnya dari anak cucu. Dengan Tri Hita Karana, Bali adalah sebuah doa yang hidup,” kata Wisnu Wardana.
Sebagai bentuk komitmen pelestarian budaya, Yayasan Tri Hita Karana (THK) juga tengah mempersiapkan kembalinya THK-Melapa-Melapi Awards tahun depan sebagai penghormatan bagi para chef yang menjaga cita rasa warisan leluhur agar tetap dikenal dunia.
Tercatat sebanyak 70 hotel dan daya tarik wisata (DTW) mengikuti THK Awards tahun ini. Meski sebagian sedang menjalani renovasi, hal tersebut justru memperkuat keyakinan Wisnu Wardana.
“Hal tersebut membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi yang menderu, Tri Hita Karana (THK) tetap menjadi kompas spiritual bagi para pelaku industri di Bali. Lebih dari 500 akreditasi selama 25 tahun adalah bukti cinta kita pada tanah ini,” ujarnya.
Wisnu Wardana menutup dengan menegaskan bahwa THK Awards selama 25 tahun bukan sekadar tentang piagam dan angka, melainkan tentang warisan bagi generasi mendatang.
“Tanpa harmoni, Bali hanyalah sebuah nama, namun dengan Tri Hita Karana (THK), Bali adalah sebuah doa yang hidup. Mari kita terus menjaga harmoni ini. Semoga Tuhan selalu memberkati niat tulus kita untuk terus membumikan Tri Hita Karana, menjaga Bali tetap hijau, berbudaya, dan bermartabat,” pungkasnya. red/nbc
#Tri Hita Karana
#THK Awards 2025
#Pariwisata Bali
#Pembangunan Berkelanjutan
#Budaya Bali




