Sunday, May 31, 2026
HomeBerita UtamaBBTF 2026 Tegaskan Kolaborasi Pentahelix, Kesiapan Destinasi, dan Pasar Baru Pariwisata Indonesia

BBTF 2026 Tegaskan Kolaborasi Pentahelix, Kesiapan Destinasi, dan Pasar Baru Pariwisata Indonesia

Dari Ubud, Nusa Dua, Bank Indonesia, hingga buyer Afrika Selatan dan Vietnam, BBTF 2026 menutup penyelenggaraan dengan pesan kuat: masa depan pariwisata ditentukan oleh kualitas, kolaborasi, dan kesiapan destinasi.

NARASIBALI.COM, NUSA DUA BALI Closing Press Conference The 12th of Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 menegaskan bahwa masa depan pariwisata Bali dan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh promosi, tetapi oleh kualitas pengalaman, kesiapan destinasi, tata kelola, konektivitas, dan kolaborasi lintas sektor.

Mengusung semangat quality tourism, forum penutupan BBTF 2026 menghadirkan perspektif pentahelix dari pemerintah, industri, kawasan pariwisata, hospitality, lembaga keuangan, komunitas, media, serta buyer internasional.

“Bali harus tetap menjadi Bali. Kekuatan utama Bali bukan hanya pada keindahan alamnya, tetapi pada budaya, adat, spiritualitas, keramahan masyarakat, dan kehidupan lokal yang menjadi jiwa destinasi ini. Karena itu, isu seperti sampah, kemacetan, infrastruktur, energi, dan ketertiban usaha pariwisata harus kita selesaikan bersama agar pariwisata Bali terus tumbuh berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat,” ujar Gubernur Bali, I Wayan Koster.

Dari Ubud Hotel Association, Putu Surya Arysoma menyampaikan suara generasi muda pelaku pariwisata Ubud. Ia menegaskan pentingnya menjaga Ubud sebagai destinasi budaya dan wellness, gastronomi yang tetap autentik, sekaligus mengingatkan bahwa penghargaan dunia yang diterima ubud, sekiranya diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dasar sesuai harapan turis asing.

“Bali dan Ubud telah memenangkan banyak penghargaan sebagai destinasi dunia. Namun, penghargaan itu juga membawa tanggung jawab. Tamu datang dengan ekspektasi tinggi. Karena itu, jalan, trotoar, listrik, kebersihan, sampah, dan kenyamanan destinasi harus benar-benar dijaga. Pentahelix menjadi penting agar pemerintah, industri, komunitas, akademisi, dan media bergerak bersama,” ujarnya.

Perspektif tersebut sejalan dengan paparan The Nusa Dua by InJourney Tourism Development Corporation General Manager, I Made Agus Dwiatmika yang menekankan pentingnya menjaga pengalaman premium melalui pengelolaan kawasan, rejuvenasi fasilitas, perbaikan pedestrian, penataan kabel, penguatan area publik, dan peningkatan pengalaman MICE serta leisure. The Nusa Dua diposisikan bukan hanya sebagai kawasan pariwisata, tetapi sebagai model destinasi premium yang menggabungkan kenyamanan, sustainability, dan kualitas layanan.

Dari sisi hospitality, General Manager the Westin Resort Nusa Dua dan Marriott Bonvoy, Sanders Looijen menegaskan bahwa pengalaman premium harus tetap berpijak pada kearifan lokal. Komitmen terhadap budaya Bali, penggunaan produk lokal, pengelolaan limbah, pembatasan plastik, serta kolaborasi dengan desa wisata menjadi bagian penting dalam menunjukkan bahwa luxury hospitality dapat berjalan bersama sustainability dan pemberdayaan komunitas.

Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani turut memperkuat perspektif ekonomi pariwisata dengan menyoroti peran desa wisata, UMKM, ekonomi kreatif, dan sistem pembayaran lintas negara. Melalui dukungan terhadap desa wisata dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk Bali, Bank Indonesia mendorong agar keunikan lokal, produk UMKM, dan potensi ekonomi daerah dapat tampil dalam ekosistem pariwisata yang lebih luas. Inisiatif seperti QRIS Cross-Border dengan 6 negara juga dinilai penting untuk memudahkan transaksi wisatawan dan memperkuat pencatatan ekonomi pariwisata.

Dari sisi pasar internasional, dua perwakilan buyer memberikan pandangan menarik mengenai peluang pasar baru. Perwakilan Afrika Selatan melihat Bali dan Indonesia memiliki daya tarik kuat untuk pasar Afrika, terutama pada pengalaman gastronomi, wine, budaya, dan perjalanan autentik. Sementara itu, buyer dari Vietnam menekankan bahwa hubungan, jejaring, dan kepercayaan menjadi kunci sebelum bisnis berkembang, serta melihat Bali sebagai destinasi yang kuat karena budaya dan alamnya tetap terjaga.

Ketua Panitia BBTF 2026 sekaligus Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, S.AB., M.A.P., menyampaikan bahwa BBTF 2026 mencatat potensi transaksi sebesar Rp6,9 triliun. Namun, menurutnya, nilai BBTF tidak berhenti pada angka transaksi.

“Nilai terbesar BBTF justru berlanjut setelah event selesai – melalui tindak lanjut bisnis, kontrak, pengembangan itinerary, perluasan pasar, kemitraan, dan keputusan buyer untuk membawa lebih banyak wisatawan ke Indonesia,” ujar Winastra.

Ia menegaskan bahwa BBTF 2026 memberi tiga pesan penting: kepercayaan terhadap Bali dan Indonesia tetap kuat, pasar global semakin selektif, dan kompetisi ke depan akan ditentukan oleh kesiapan destinasi.

Menutup penyelenggaraan tahun ini, BBTF memperkenalkan arah awal The 13th Bali & Beyond Travel Fair 2027 yang dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Juni 2027 di Bali International Convention Centre, The Westin Resort Nusa Dua, Bali, dengan tema “Bali & Beyond: Regenerative Travel, Elevated.”

“Dengan hasil dan pembelajaran dari BBTF 2026, persiapan BBTF 2027 harus dimulai dari sekarang. Buyers, sellers, partners, dan seluruh pemangku kepentingan perlu menyiapkan produk, narasi, kualitas layanan, dan kolaborasi yang sejalan dengan tema Bali & Beyond: Regenerative Travel, Elevated. Tahun depan, BBTF harus membawa percakapan pariwisata Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi – bukan hanya tentang pertumbuhan, tetapi tentang kualitas pertumbuhan dan dampak positif bagi masyarakat, budaya, dan alam,” ujar Winastra.

Ditambhakan lebih lanjut diharapkan DKI Jakarta turut bergabung di BBTF 2027 – “Jakarta dan Bali memiliki kekuatan yang saling melengkapi; melalui kolaborasi multi-destinasi, MICE, gastronomi, budaya urban, dan ekonomi kreatif, kita dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan sekaligus memperluas manfaat ekonomi pariwisata bagi lebih banyak pelaku industri dan komunitas,” ujar Bima Agung, Kepala Bidang Data Informasi dan Pengembangan Destinasi, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, mewakili Wakil Gubernur DKI Jakarta.

BBTF 2026 menutup penyelenggaraannya dengan pesan yang jelas: masa depan pariwisata Bali dan Indonesia membutuhkan lebih dari promosi. Diperlukan destinasi yang siap, produk yang kuat, pasar yang tepat, pengalaman yang berkualitas, serta kolaborasi nyata antara pemerintah, industri, komunitas, akademisi, media, dan pasar global. tha/nbc

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -




Most Popular

Recent Comments