Sunday, June 21, 2026
HomeBerita UtamaKupas Tuntas "Jiwa Sidha Parisudha”, Gong Kebyar Wanita Jadi Magnet Panggung PKB...

Kupas Tuntas “Jiwa Sidha Parisudha”, Gong Kebyar Wanita Jadi Magnet Panggung PKB 2026

Daya pikat Sekaa Gong Kebyar Wanita selalu jadi magnet penonton Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 tahun 2026. Hal ini dapat disakikan saat Sekaa Gong Kebyar Wanita (GKW) Swara Ratna Kencana, Banjar Anyar-Anyar, Desa Ubung Kaja memukau penonton lewat penampilan terbaiknya pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center, Taman Budaya Denpasar, Sabtu (20/6) malam.

NARASIBALI.COM, DENPASAR Tampil mebarung dengan Duta Kabupaten Buleleng, GKW Swara Ratna Kencana sukses mengundang sorak sorai hingga tepuk tangan penonton yang hadir. Sebanyak tiga materi turut dibawakan, yakni Tabuh Kreasi Kebyar-Kebyar Rong, Tari Kreasi Jaran Teji dan Sandya Gita bertajuk Mati Tan Tumut Pejah.

Koordinator Sekaa GKW Swara Ratna Kencana, I Nyoman Suarsa, mengatakan seluruh materi dipersiapkan secara serius untuk menghadirkan sajian yang tidak hanya menarik secara artistik, tetapi juga memiliki makna mendalam.

“Tabuh Kreasi Kebyar-Kebyar Rong menggambarkan kehidupan sebagai ruang yang penuh dinamika, tempat manusia dihadapkan pada pilihan untuk menuju kemuliaan atau kehancuran sesuai hukum alam. Konsep tersebut kami tuangkan melalui permainan gamelan yang atraktif dan dinamis,” ujarnya.

Selain itu, Tari Kreasi Jaran Teji turut menjadi daya tarik dalam penampilan tersebut. Tarian karya I Wayan Dibia ini mengisahkan perjalanan Dewi Sekar Taji yang menyamar sebagai pria untuk mencari kekasihnya, Raden Panji Inu Kertapati.

“Tarian ini memadukan karakter putra dan putri yang menggambarkan keberanian, perjuangan, kesetiaan, sekaligus kelembutan dalam pencarian cinta yang heroik,” kata Suarsa.

Sebagai penampilan pemuncak, Sandya Gita Mati Tan Tumut Pejah hadir dengan semangat patriotisme yang terinspirasi dari nilai-nilai perjuangan para pahlawan. Melalui karya tersebut, para penampil ingin mengajak generasi muda untuk meneladani semangat pengabdian kepada bangsa dan negara, sekaligus memahami pentingnya kepemimpinan, pengetahuan, teknologi, dan ekonomi dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Atas keberhasilan penampilan tersebut, Suarsa menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama proses persiapan hingga pementasan berlangsung. Terutama para penabuh, tim pembina dan panitia yang telah bekerja keras selama ini.

“Kami sangat bersyukur karena seluruh materi dapat dibawakan dengan maksimal. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan mendampingi selama kurang lebih delapan bulan proses latihan. Semoga penampilan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkarya dan melestarikan seni budaya Bali,” tutup Suarsa.

Tak kalah menariknya dengan penampilkan Sekaa Gong Kebyar Wanita (GKW) Swara Ratna Kencana, duta Kota Denpasar pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) le-48 tahun 2026, di kalangan Arda Chandra, Art Center, Jumat (19/6/2026) yang menampilkan karya garapan bertajuk Reng Roh. Sebuah persembahan menawan yang dibawakan oleh Sekaa Gong Kencana Wiguna, Banjar Kehen Kesiman, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur.

Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Narta didampingi Koordinator I Gede Arimbawa menjelaskan, secara umum garapan Reng Roh adalah karya komposisi balaganjur sebagai media untuk pemuliaan jiwa yang suci bersifat murni, abadi dan sumber kehidupan mahluk hidup. Pemuliaan jiwa dalam konteks ini lebih ditekankan pada kebahagiaan semasa hidup dengan berbagai kegiatan yang dijalani sang jiwa.

“Karya Reng Roh mengelaborasi unsur musik seperti; melodi, tempo dinamika, ritme, timbre serta olahan vokal yang ditata dalam sajian gerak atraktif dan teatrikal sebagai gambaran pemuliaan sang jiwa ketika hidup,” jelas Wayan Narta.

Lebih jauh, pihaknya mengemukakan, kearifan musik Kesiman, seperti sesandaran dan ancag-ancagan juga menjadi inspirasi dalam pengolahan instrumen serta unsur musik pada karya yang ditampilkan malam ini.

Penataan gerak sendiri lanjut Wayan Narta terinspirasi dari konsep mebraya/gotong royong, seperti matetekan, metandingan sebelum upacara keagamaan berlangsung dan kegiatan kesenian di masyarakat, seperti megambel serta menari.

Perpaduan dari pengolahan musikal dan gerak tentunya menghasilkan harmoni serta inovasi, sehingga karya yang kreatif, ekspresif dan atraktif dapat terbentuk.

“Persiapan yang kami lakukan untuk menampilkan karya Reng Roh ini telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Semoga penampilan kami ini bisa Jayanti pada PKB XVIII tahun 2026 ini,” harapnya.

Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengapresiasi penampilan Sekaa Baleganjur Kencana Wiguna, Banjar Kehen Kesiman, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur, yang dinilainya tampil sangat maksimal dan luar biasa pada malam itu.

Tak hanya itu, Jaya Negara juga mengaku bangga terhadap semangat berkesenian seniman Denpasar yang mengutamakan regenerasi, sebagai sebuah upaya untuk melestarikan warisan kebudayaan leluhur.

Sementara Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa juga memuji atas penampilan yang ditunjukkan Sekehe Gong Kebyar Wanita (GKW) Swara Ratna Kencana, Banjar Anyar-Anyar, Desa Ubung Kaja. Menurutnya, penampilan yang disajikan mampu mencerminkan kualitas, kreativitas, dan semangat pelestarian seni budaya yang terus tumbuh di Kota Denpasar.

Tak hanya itu, Arya Wibawa mengaku kagum dengan konsep garapan yang dihadirkan dalam setiap materi pementasan. Mulai dari Tabuh Kreasi Kebyar-Kebyar Rong yang sarat makna filosofis, Tari Kreasi Jaran Teji yang memadukan semangat perjuangan dan kesetiaan, hingga Sandya Gita Mati Tan Tumut Pejah yang mengangkat nilai patriotisme. Seluruh sajian tersebut mampu dikemas secara harmonis melalui perpaduan tabuh, tari, vokal, dan penghayatan yang kuat sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton.

Penampilkan dua duta Kota Denpasar ini menjadi menarik karena mampu mengupas intisari sesuai tema PKB ke-48 yang mengangkat “Jiwa Sidha Parisudha”, atau memuliakan jiwa paripurna, yang mampu memberi makna dimana Atma Kerthi sebagai pemuliaan Maha Jnana.  tri/nbc

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -




Most Popular

Recent Comments