NARASIBALI.COM, DENPASAR – PKB ke-48 tahun 2026, mengusung tema “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha” yang bermakna Memuliakan Jiwa Paripurna yang dijadikan sebagai wadah aktivitas dan kreativitas para seniman dalam upaya ikut mendukung program pemerintah dalam hal penggalian, pelestarian dan pengembangan nilai-nilai seni budaya Bali yang adiluhung.
Pesta Kesenian Bali diselenggarakan sebagai upaya persembahan karya cipta seni terbaik masyarakat. Kalaupun kini masyarakat berkeinginan memilih antara kesenian dan kerajinan, profane dan sekuler, pesanan dan kreativitas murni masyarakat Bali, semua itu mereka kerjakan dengan semangat “persembahan”.
Perbedaan itu tidak akan mengurangi hakikat berkesenian. Karena seni yang ditampilkan adalah persembahan dan karya cipta yang dihasilkan juga sebagai persembahan. Hal inilah yang dimaknai sebagai pembebasan yang ihklas yang dalam ajaran Hindu disebut dengan yadnya.
Pesta Kesenian Bali merupakan media dan sarana untuk menggali dan melestarikan seni Budaya serta meningkatkan kesejahteraan. Penggalian dan pelestarian seni budaya meliputi filosofi nilai-nilai luhur dan universal, konsep-konsep dasar, warisan budaya yang bernilai sejarah tinggi, ilmu pengetahuan dan seni sebagåi representasi peradaban serta pengembangan kesenian melalui kreasi dan inovasi.
Latar belakang dan tujuan diadakannya Pesta Kesenian Bali secara rutin setiap tahun, adalah untuk melestarikan, mengembangkan dan mempromosikan kesenian Bali. Pesta Kesenian Bali pertama kali dimulai pada tahun 1979. Pencetusnya adalah Gubernur Bali ke-6, almarhum Ida Bagus Mantra. Dengan adanya Pesta Kesenian Bali ini, menjadikan segala bentuk kesenian di Pulau Bali menjadi tumbuh dan mengalir dari generasi ke generasi.
Inilah disebut pelestarian, yang selalu hidup di tengah-tengah masyarakat melalui seka-sekaa, baik sebunan, kelompok banjar atau pun lewat sanggar – sanggar. Atas dasar ini pula Gubernur Bali Wayan Koster terus mendorong agar PKB berkembang dan berkualitas.
Beranjak dari PKB ke-48 tahun 2026 yang mengusung tema “Jiwa Sidha Parisudha”, atau Memuliakan Jiwa Paripurna, diharapkan mampu memberi makna dimana Atma Kerthi sebagai pemuliaan Maha Jnana.
Tema inilah yang mengilhami persembahan Sanggar Seni Gargita Santhi dari Banjar Pacung, Desa Sangeh, Kabupaten Badung. Tampil di Kalangan Angsoka, Denpasar, Senin (22/6/2026) melalui dentang gamelan berpadu dengan sentuhan modern membuat penonton terpukau.
Sanggar Seni Gargita Santhi, Br. Pacung, Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, tampil sebagai Duta Kabupaten Badung dalam Rekasadana (Pergelaran) Gambelan Inovatif di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Penampilan mereka menghadirkan tiga garapan seni yang kuat secara konsep, musikalitas, dan pesan lingkungan.
Persembahan tiga karya apik dari Sanggar Seni Gargita Santhi yakni Tri Paiketan, Sang-Ngeh, dan Tapa Rare, yang seluruhnya terinspirasi dari kearifan lokal Alas Sangeh. Garapan pertama, Tri Paiketan tentang Harmoni Jiwa dan Alam di Hutan Sangeh, menggambarkan keseimbangan hidup antara manusia, alam, dan spiritualitas. Tiga wilayah suci Tempek Kangin, Tempek Tengah, dan Tempek Kauh menjadi simbol harmoni yang terjalin dalam kehidupan kawanan kera dan ekosistem hutan.
Melalui gerak tari yang terinspirasi dari alam, dipadukan dengan narasi gerong bertema pelestarian lingkungan, karya ini juga menyisipkan pesan kekinian melalui aksi memungut sampah di panggung. Nilai Atma Kerthi menjadi roh utama, sebagai refleksi menjaga kesucian jiwa dan keharmonisan alam.
Karya kedua, Sang-Ngeh, menyuguhkan kisah magis asal-usul Hutan Sangeh. Komposisi musikalnya memadukan gamelan Bali dengan instrumen modern dan lintas budaya. Harmoni bunyi yang dihasilkan menghadirkan suasana mistis sekaligus puitis, memperkuat pesan spiritual tentang hubungan manusia dan alam semesta.
Sementara itu, Tapa Rare mengangkat perjalanan spiritual Anak Agung Anglurah Made Karangasem Sakti. Karya ini memadukan simbol tapa sebagai pengendalian diri dan rare sebagai kreativitas anak-anak dalam bentuk musikalitas yang kompleks. Perpaduan vokal dan instrumental menghasilkan komposisi inovatif yang sarat makna filosofis.
Angkat Harmoni Alam dan Pemurnian Jiwa
Sebuah persembahan menariknya lainnya dari Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani, Badung. Tampil di panggung terbuka Art Centre Denpasar, Sabtu (20/6/2026) sanggar ini mengangkat garapan bertajuk “Srotragrahana”, sebuah pertunjukan yang sarat nilai spiritual, harmoni alam, dan makna pemurnian jiwa dalam ajaran Hindu.
Suguhan “Srotragrahana” menggambarkan suasana di jantung Hutan Greseh, tempat beragam satwa seperti unggas, kera, anjing, kura-kura, babi, hingga macan hidup berdampingan dalam harmoni.
Karya ini tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang pentingnya menjaga warisan budaya dan spiritualitas Bali. Intinya, pertunjukan ini menyampaikan pesan menjaga taksu leluhur, kemudian melestarikan budaya Bali, terlebih adalah proses pemurnian roh.
Dalam garapan tersebut, sosok macan yang lazim dikenal sebagai pemangsa buas ditampilkan dengan tafsir berbeda. Meski tetap digambarkan tangguh dan agresif, macan justru mengalihkan kekuatannya untuk menjaga keamanan seluruh penghuni hutan. Simbol itu menegaskan bahwa kekuatan sejati tidak selalu hadir dalam bentuk ancaman, melainkan juga perlindungan.
Keharmonisan di Hutan Greseh diceritakan semakin sempurna berkat kehadiran Dang Hyang Nirartha atau Pedanda Sakti Wawu Rauh. Di sebuah taman asri di sisi timur hutan, tokoh suci tersebut digambarkan tengah menjalani laku spiritual sambil menyusun untaian sastra pada lembaran lontar.
Pancaran Jnana atau pengetahuan suci yang dimiliki Dang Hyang Nirartha disebut menciptakan aura kasih sayang yang menyelimuti seluruh makhluk. Berkat kemuliaan batinnya, ia mampu memahami bahasa alam dan berkomunikasi dengan setiap ciptaan Tuhan yang ada di hutan tersebut.
Dari sanalah, kisah “Srotragrahana” mencapai puncak spiritual ketika para satwa dengan penuh bakti bersedia menjadi bagian dari sarana ritual di Pura Sada Kapal. Pertunjukan ini kemudian mengarah pada makna Mapepada, sebuah prosesi sakral dalam tradisi Hindu Bali.
Dalam pandangan Hindu, hewan yang digunakan sebagai sarana upacara tidak dipandang sekadar sebagai korban, melainkan makhluk yang sedang menempuh jalan pengabdian suci. Melalui upacara Mapepada, roh atau atman hewan diyakini disucikan dari sifat-sifat kebinatangan agar pada kelahiran berikutnya dapat meningkat ke derajat kehidupan yang lebih luhur.
Melalui “Srotragrahana”, Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani tak hanya menyuguhkan tontonan yang artistik, tetapi juga menghadirkan tuntunan spiritual tentang hubungan manusia, alam, dan seluruh ciptaan Tuhan.
Pertunjukan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya Bali tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga taksu leluhur dan kesucian nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun.
Itulah sebuah persembahan yang ditunjukkan para seniman yang sebagian besar dari kalangan generasi muda. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan ini sebuah fakta menunjukkan bahwa seni budaya di Bali tidak akan pernah mati, namun akan selalu hidup dengan penuh gairah dalam kehidupan masyarakat Bali yang harmonis.
“Ini sebagai implementasi visi pembangunan Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru, serta sesuai amanat dalam Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru, 2025-2125,” jelas Gubernur Koster. tha/nbc







